Beranda Kabupaten Kupang Mangkir Dari Panggilan, Jaksa Tangkap Kepsek SMKN 2 Kupang Barat

Mangkir Dari Panggilan, Jaksa Tangkap Kepsek SMKN 2 Kupang Barat

2858
0
BERBAGI
Foto: Yosaphat Pellu (tersangka) ketika diperiksa oleh tim penyidik Tipidsus Kejari Kabupaten Kupang, Mourist, Kamis (11/1) usai ditangkap.

Oelamasi, kriminal.co – Kamis (11/1) sekitar pukul 11:00 wita, tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kupang, akhirnya menangkap Yosepus Telu Kepala Sekolah (Kepsek) SMKN 2 Kupang Barat.

 
Yosaphat Pellu terpaksa ditangkap karena mangkir dari panggilan jaksa sebanyak tiga kali untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan gedung SMKN 2 Kupang Barat tahun 2015 senilai Rp 1, 6 miliar.
Tersangka ditangkap dikediamannya Desa Bolok Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang. Dalam penangkapan, tanpa ada perlawanan dari tersangka. Dalam penangkapan tersebut tim penyidik Tipidsus Kejari Kabupaten Kupang dibantu tim Buser Polres Kupang.
Kajari Kabupaten Kupang, Ali Sunhaji yang dikonfirmasi wartawan melalui Kasi Pidsus, Noven Bulan menegaskan bahwa tersangka terpaksa ditangkap (dilakukan upaya paksa) karena tersangka mangkir dari panggilan jaksa sebanyak 3 kali.
“Karena tidak penuhi panggilan sebanyak tiga kali maka terpaksa kami jemput paksa dikediamannya di Desa Bolok Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang,”tegas Noven.
Setelah diamankan, kata Novan, tersangka langsung digiring menuju Kejati NTT untuk diperiksa tim penyidik Tipidsus Kejari Kabupaten Kupang untuk dilakukan pemeriksaan tambahan sebagai tersangka.
“Setelah dilakukan pemeriksaan, kami periksa kesehatannya kemudian dibawa ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kupang untuk ditahan,”ungkap Noven.
Lanjut Noven, dalam kasus dugaan korupsi itu negara mengalami kerugian sebesar Rp 1, 6 miliar. Pasalnya, dalam kasus itu tersangka mengerjakan proyek itu setelah status itu dinaikan.menjadi penyidikan (DIK).
 
 
“Negara rugi sebesar Rp 1, 6 miliar sesuai pagu anggaran. Kami anggap total los karena tidak dikerjakan sama sekali oleh tersangka, setelah penyidikan (DIK) baru dia (tersangka) kerja tapi tidak 100 persen,”terang Noven.(che)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here