Beranda Flores Temui Jaksa, AMPERA Sebut Polisi Diminta Periksa Bupati Lembata

Temui Jaksa, AMPERA Sebut Polisi Diminta Periksa Bupati Lembata

36
0
BERBAGI

Kupang, Kriminal.co – Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Lembata (AMPERA), terus mengawal kasus dugaan korupsi pekerjaan pembangunan destinasi wisata jembatan apung dan kolam apung di Pulau Siput Awolong, Kabupaten Lembata.

Untuk menuntaskan kasus tersebut, Rabu (23/06/2021) sekitar pukul 09 : 00 wita, AMPERA menemui jaksa peneliti berkas perkara pada Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT), Hendrik Tiip dan Nurcholis.

Dalam kesempatan itu, Kejati NTT dan Amppera membahas tentang progres penanganan kasus dugaan korupsi proyek wisata jembatan titian apung dan kolam apung berserta fasilitas lainnya di Pulau Siput Awololong Lembata.

Emamuel Boli koordinator AMPERA kepada wartawan dalam rilisnya mengatakan terkait kasus Jeti Awololong, jaksa peneliti berkas, Nurcholish menjelaskan bahwa jaksa menerima perkara dari penyidik kepolisian dan berkas tersebut yang  diteliti itu merupakan syarat formil.

“Terkait kasus yang disampaikan (kasus Awololong), jaksa peneliti melihat fakta-fakta yang ada, walaupun banyak orang,  kita melihat peranannya apa, kemudian niat jahat terhadap itu apa, posisi sekarang kita telah memberi petunjuk terkait ada fakta-fakta yang harus digali,” kata Eman.

Ditambahkan Eman, Hendrik Tip selaku jaksa peneliti berlas pada Kejati NTT mengatakan, berkas perkara kasus Awololong masih di penyidik Tipidkor untuk dilengkapi. Dalam petunjuk itu disebitkan bahwa penyidik Polda NTT agar memeriksa Bupati Lembata.

” Supaya jelas persoalannya, periksa Pak bupati, kita beri petunjuk periksa Pak Bupati, melakukan pendalaman dari aspek perencanaan anggaran sampai dengan eksekusi angggaran, kira-kira seperti apa?,” ucap Eman mengulang perkataan jaksa Hendrik.

Dilanjutkan Eman, dalam petunjuk itu juga jaksa meminta penyidik untuk membuktikan unsur perbuatan melawan hukum, niat jahatnya Si Middo (konsultan perencanaan), niat jahatnya PPK (Silvester Samun, SH).

Menurut Eman, berdasarkan penjelasan itu pihak Kejati terus berkoordinasi dengan penyidik terkait perkembangan kasus Awololong,  teman-teman penyidik masih berupaya untuk melengkapi.

“Penyidik harus dalami keterangan Bupati Lembata dari awal sampai akhir agar tidak terjadi bolak-balik berkas perkara,” kata Eman kembali mengulang ucapan jaksa.

Untuk diketahui bahwa proyek wisata itu muncul dalam Perbup nomor 41 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Perbup Nomor 52 Tahun 2017 Tentang Penjabaran  APBD Kabupaten Lembata Tahun 2018.

“Bupati Lembata, Yentji Sunur harus diperiksa Polda NTT agar tidak menimbulkan polemik, tuduhan miring, spekulasi, atau kecurigaan publik bahwa Polda NTT sudah “masuk angin” serta mosi tidak percaya publik kepada institusi Polri,” tandas Emanuel Boli, mantan aktivis PMKRI Kupang.

Dalam kasus ini, penyidik tindak pidana korupsi Polda NTT  telah menetapkan tiga orang tersangka, yakni Silvester Samun, SH selaku pejabat pembuat komitmen, Abraham Yehezkibel Tsazaro L, SE selaku kontraktor pelaksana, Middo Arrianto Boru,   ST selaku konsultan perencana, konsultan pengawas,  dan membantu dalam melaksanakan pekerjaan pembangunan proyek wisata jeti apung dan kolam apung berserta fasilitas lainnya di Pulau Siput Awololong Lembata.

Proyek mangkrak bukan kehendak masyarakat Lembata itu merugikan keuangan negara senilai 1,4 miliar lebih. Meski demikian, ketiga tersangka belum ditahan polisi. Alasannya, mereka (tersangka) akan ditahan apabila berkas perkara telah dinyatakan lengkap. Terkini, penyidik sedang melakukan pemenuhan prapenuntutan (P19) dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Provinsi Nusa Tenggara Timur.(che)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here