Beranda Kota Kupang Sistim di Bank NTT Dinilai Masih Buruk, Paul : Malaikatpun Bisa Korupsi

Sistim di Bank NTT Dinilai Masih Buruk, Paul : Malaikatpun Bisa Korupsi

43
0
BERBAGI

Kupang, Kriminal.co – Sistim atau atauran di Bank NTT dinilai masih sangat buruk. Hal ini terbukti dengan masih terjadi kasus korupsi baik pada Kantor Pusat Bank NTT, Kantor Bank NTT Cabang Surabaya dan Kantor Cabang Utama Bank NTT.

Sistim atau aturan pada Bank NTT seharusnya dirubah sehingga kasus korupsi tidak lagi terjadi pada tubuh Bank NTT baik d Kantor Pusat maupun Kantor Cabang dan Kantor Cabang Utama.

Demikian diungkapkan Koordinator Divisi Anti Korupsi PIAR NTT, Paul Sinlaeloe ketika dihubungi wartawan, Minggu (18/07/2021) malam melalui hand phone (hp) selulernya.

Menurut Paul, jika sistim atau aturan pada Bank NTT belum dirubah maka mau siapapun yang ditempatkan sebagai pimpinan ataupun direktur utama (Dirut) Bank NTT, maka korupsi tetap terjadi.

“Mau orang pintar atau orang bodoh bahkan malaikat sekalipun yang menjadi pimpinan tetap akan ada korupsi jika sistim atau aturannya masih buruk,” ungkap Paul Sinlaeloe.

Diakuinya bahwa terkait dengan sistim atau aturan pada Bank NTT tidak dipahami dan mungkin saja tidak bisa dimengerti. Namun, jika sistim yang buruk masih tetap dipertahankan maka korupsi pun tetap terjadi.

Ditambahkan Paul, terkait dengan temuan BPK RI Perwakilan NTT pada Bank NTT senilai Rp. 50 miliar itu, Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, segera bersikap dengan memeriksa seluruh pimpinan maupun mantan pimpinan saat pembelian MTN pada PT. SNP Finance di tahun 2018 lalu.

“Saya rasa soal temuan itu, Kejati NTT segera periksa Dirut Utama saat ini, komisaris, para direksi dan mantan pimpinan pada Bank NTT di Tahun 2018 disaat pembelian MTN dari PT. SNP Finance,” harap Paul.

Paul kembali menegaskan bahwa Kejati NTT dalam penanganan perkara korupsi di NTT jangan hanya melihat pelaku secara perorangan namun harus dilihat bahwa ini perbuatan secara korporasi yang berakibat pada kerugian keuangan negara.

Untuk itu, lanjut Paul, pada temuan BPK RI Perwakilan NTT senilai Rp. 50 miliar pada Bank NTT, jaksa harus mampu membuktikan bahwa perbuatan ini dilakukan secara korporasi atau lembaga sehingga seluruh pimpinan wajib dimintai pertanggung jawaban atas kerugian senilai Rp. 50 miliar berdasarkan temuan BPK RI Perwakilan NTT.

Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho sebelumnya dalam konfrensi pers menegaskan bahwa mengenai temuan BPK RI Perwakilan NTT tanggal 14 Januari 2020 terkait investasi di PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan Finance.

Menurut Alex, dirinya memberikan apresiasi atas keterbukaan informasi saat ini. Namun keterbukaan informasi, mestinya diimbangi dengan mekanisme
pemberitaan yang berimbang, cover both side, sesuai dengan etik jurnalistik agar tidak menyebabkan fitnah dan pembohongan terhadap publik.

“Kami perlu meluruskan bahwa terkait temuan ini, sudah ada putusan dari Pengadilan Niaga, yang bertanggungjawab memeriksa, mengadili dan memberi putusan terhadap perkara kepailitan dan penundaan kewajiban dan pembayaran utang. Bahwa diserahkan ke kurator untuk penyelesaian masalah tersebut dan sejauh ini, kurator sedang bekerja, mengidentifikasi aset dan juga piutang untuk penyelesaian kewajiban,” kata Alex.

Besar harapan manajemen, agar masalah ini segera tuntas. Kiranya dengan kesamaan visi dan misi, mari kita membangun dan membesarkan Bank NTT, menuju Super Smart Bank untuk NTT Maju.(che)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here