Beranda Kota Kupang Kasus Rp. 50 Miliar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Taruhannya

Kasus Rp. 50 Miliar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Taruhannya

54
0
BERBAGI

Kupang, Kriminal.co – Kasus dugaan korupsi pembelian MTN senilai Rp. 50 miliar oleh Bank NTT pada PT. Sunprima Finance Pembiayaan, saat ini sedang ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT).

Dalam kasus ini, tim penyidik Kejati NTT telah memeriksa sejumlah pejabat dan mantan pejabat pada Bank NTT, diantaranya Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Alex Riwu Kaho, Kepala Divisi Treasury, Zet Lamu dan mantan Dirut Bank NTT, Edy Bria Seran.

Dosen Fisip Undana Kupang, Lasarus Jehamat kepada wartawan, Kamis (28/10/2021) mengakui bahwa seluruh kasus ─Ćugaan korupsi membutuhkan waktu untuk dilakukan pemeriksaan.

Namun, kata Lasarus, jika sebuah kasus dugaan korupsi terlampau lama untuk dilakukan pemeriksaan dan bertele – tele, kepercayaan masyarakat menjadi taruhannya, apakah Kejati NTT masih akan dipercaya dalam penanganan perkara Tipikor atau tidak.

“Semua kasus memang butuh waktu untuk pemeriksaan. Tapi kalau terlampau lama dan bertele-tele, kepercayaan masyarakat yang menjadi taruhan nantinya,” kata Lasarus.

Untuk itu, kata Lasarus, ketegasan sangat diperlukan dalam penanganan sebuah kasus dan tidak boleh ada namanya main – main dalam level wacana.

Lasarus kembali menegaskan bahwa eksekusi dan kerja nyata itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat NTT. Hal itu ada erat kaitannya dengan rasa keadilan kepada masyarakat.

“Ketegasan hemat saya tidak hanya dan tidak boleh bermain dilevel wacana. Eksekusi itu penting karena berkaitan dengan rasa keadilan masyarakat. Dukungan untuk aparat penegak hukum jelas diberikan untuk membuka kasus ini,” ujar Lasarus.

Lasarus juga meminta pihak Kejati NTT perlu memeriksa latar belakang pembelian tanpa menghitung dan memeriksa kesehatan perusahaan tersebut. Jika, perusahaan itu bermasalah mengapa dilakukan pembelian MTN dari perusahaan PT. SNP Finance Pembiayaan.

“Kalau membaca kasusnya, saya kira perlu diperiksa latar pembelian MTN tanpa menghitung dan memeriksa kinerja serta kesehatan perusahan. Atau, kalau pun sudah tahu bahwa perusahan itu ada masalah, menjadi soal kalau sudah tahu mengapa tetap dibeli. Ada apa? Dosa kepentingan ada di bagian dana. Dan kalau itu yang terjadi, layaknya aparat penegak hukum menelusurinya,” tutup Lasarus.

Sebelumnya, Wakajati NTT, Dr. Rudi Margono, S. H, M. H, yang ditemui diruang kerjanya, Jumat (22/10/2021) menegaskan bahwa kasus dugaan korupsi senilai Rp. 50 miliar di Bank NTT, sementara berjalan.

Menurut Wakajati, sampai saat ini tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejati NTT, terus melakukan pemeriksaan dan pendalaman kasus pembelian MTN oleh Bank NTT dari PT. Sunprima Finance Pembiayaan.

“Kasusnya masih sementara jalan. Pemeriksaan terus dilakukan oleh penyidik Tipidsus Kejati NTT,” ungkap Wakajati NTT, Dr. Rudi Margono, S. H, M. H.

Ditambahkan Wakajati, percayakan penuntasan kasus dugaan korupsi senilai Rp. 50 miliar pada Bank NTT dalam pembelian MTN dari PT. Sunprima Finance Pembiayaan, pada Kejati NTT karena diyakini bakal dituntaskan oleh penyidik Kejati NTT.

Menurut Wakajati, biarkan penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejati NTT bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku dan biarkan penyidik bekerja secara profesional sehingga mendapatkan hasil yang terbaik.

“Percayakan kasusnya pada penyidik Kejati NTT. Saya yakin kasusnya bisa diselesaikan dengan hasil yang terbaik karena penyidik telah bekerja secara profesional,” tambah Wakajati.

Ditegaskan Wakajati, kasus dugaan korupsi selama ini hanya menghukum perorangan. Namun, kali ini bisa saja melibatkan korporasi baik dari pihak Bank NTT maupun PT. Sunprima Finance Pembiayaan.

“Kali ini bisa saja korporasi yang kami jerat. Selama inikan baru penetapan secara prorangan. Sedangkan dalam kasus Rp. 50 miliar bisa saja melibatkan korporasi baik dari Bank NTT maupun PT. Sunprima Finance Pembiayaan.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here