Home Kota Kupang Dewi Manek Istri Mantan Bupati TTU Diperiksa Jaksa Soal Kasus Dugaan Korupsi

Dewi Manek Istri Mantan Bupati TTU Diperiksa Jaksa Soal Kasus Dugaan Korupsi

355
0
SHARE

Foto : Bangunan Rumah Sakit Modern TTU

TTU, Kriminal.co – Tim penyidik Intelejen Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), kini gencar melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah mantan pejabat pada lingkup Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten TTU.

Sejumlah mantan pejabat yang diperiksa diantaranya mantan Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes dan Gabriel Manek yang juga mantan Bupati TTU. Selain kedua mantan Bupati, penyidik juga turut memeriksa Dewi Manek istri mantan Bupati TTU, Gabriel Manek.

Kajari Kabupaten TTU, Roberth Jimmy Lambila, S. H, M. H yang dikonfirmasi melalui Kasi Intel Kejari TTU, Hendrik Tiip, S. H, Jumat (08/07/2022) membenarkan adanya pemeriksa terhadap kedua mantan Bupati TTU itu.

Dijelaskan Hendrik, keduanya diperiksa terkait adanya dugaan korupsi pembebasan lahan untuk Rumah Sakit (RS) Modern Kabupaten TTU Tahun 2007 – 2008 lalu.

“Iya benar. Dua mantan Bupati TTU yakni Raymundus Sau Fernandes dan Gabriel Manek sudah kami periksa. Selain kedua mantan Bupati TTU ini, kami juga sudah memeriksa Dewi Manek istri mantan Bupati TTU, Gabriel Manek,” terang Hendrik.

Dikatakan Hendrik, anggaran untuk pembebasan lahan RS Modern TTU senilai Rp. 490 juta ditambah Rp. 10 juta di tahun 2008 sehingga totalnya mencapai Rp. 500 juta. Namun, anggaran Rp. 10 juta di Tahun 2008 bukan untuk pembebasan lahan namun untuk honor.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjutnya, RS Modern sempat beroperasi namun tanpa alasan yang jelas tidak digunakan lagi. RS Modern kembali digunakan di Tahun 2019 itupun dikarenakan Kantor Dinas Kesehatan sedang diperbaiki namun setelah itu tidak lagi digunakan hingga saat ini.

“Penyidik masih mencari tahu alasan apa rumah sakit yang sudah dibangun tidak digunakan oleh Pemda Kabupaten TTU. Sedangkan anggarannya telah dibayarkan kepada tujuh (7) pemilik lahan,” ujarnya.

Ditegaskan Hendrik, terkait pembayaran guna pembebasan lahan kepada tujuh (7) orang hanya senilai Rp. 200 juta lebih sedangkan sisanya Rp. 200 juta belum dibayarkan hingga saat ini.

“Yang masih didalami soal asas manfaatnya. Mengapa anggarannya ada dan bangunannya tetapi tidak digunakan lagi. Lalu, sebagian saksi juga telah meninggal dunia,” tambah Hendrik.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here