Home Flores Frans Sarong Sosok Pemimpin Yang Rendah Hati

Frans Sarong Sosok Pemimpin Yang Rendah Hati

605
0
SHARE
Foto: Frans Sarong
Sorong, kriminal.co – Mantan wartawan senior, Frans Sarong merupakan salah satu sosok yang didambakan oleh berbagai elemen yang didambakan warga Manggarai Timur dan warga Manggarai Raya.
Sosok ini disebut sebagai sosok pemimpin yang dirindukan masyarakat Manggarai. Frans Sarong dinilai sebagai sosok elegan, rendah hati, jujur dan sangat telaten dalam menjalankan tugas yang dipecayakan kepadanya. Dia telah terbukti  bekerja dengan hati nuraninya, dan sungguh, dia sangat mencintai Manggarai Timur.
Pendapat itu dikemukakan warga Manggarai Timur yang ada di Kupang dan dari berbagai daerah lainnya. Ambros Laus warga Matim di Kupang menilai, sosok Frans Sarong memang pantas memimpin Manggarai Timur lima tahun ke depan pasca Yoseph Tote dan Agas Andreas.
“Saya kenal baik Frans Sarong. Dia adalah seorang jurnalis yang memiliki nurani dan selalu berjuang untuk orang-orang kecil. Sebagai wartawan dia telah berbuat cukup banya untuk  daerah ini terutama di Manggarai Timur, karena itu sangat pantas dia menjadi pemimpin Matim,” katanya di Kupang beberapa waktu lalu.
Salah satu tokoh jurnalis nasional asal Dampek Kecamatan Lamba Leda yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Obor.com  Jakarta, Yustinus Lesek juga memberikan penilai yang sangat postifi atas kehadiran Frans Saring dalam kontestasi politik Pilkada Matim.
Dalam akun Facebook (FB) yang dimuat di wall  “Grup Dukung Sarong- Kasmir Menuju Manggarai Timur” beberapa waktu lalu, Yon Lesek sapaan akrab Yustinus Lesek merasa terharu ketika Frans Sarong menyatakan maju di Pilkada Manggarai Timur. Dan Yon menghimbau masyarakat  Manggarai Timur jangan ragu memilih paket Sarong Kasmir dalam pilkada kali ini.
Yon Lesek dalam wall  Grup Dukung Sarong Kasmir menuju Manggarai Timur meniulois sebagai berikut: “Menyambut keinginan PaK Frans Sarong menjadi Bupati Manggarai Timur sungguh mengharukan saya, sebagai warga Manggarai Timur, asal Dampek. Lamba Leda, yg saat ini masih di tanah rantau.Pak Frans Sarong pilihan terbaik kita. Jangan ragu memilih tokoh ini kalau kita ingin Manggarai Timur segera bangkit dan jaya. Karena saya tahu baik sekali, Pak Frans Sarong akan bekerja dengan hati nuraninya dan sungguh dia sangat mencintai Manggarai Timur. Dan dengan segala kemampuan dan jaringannya  yang level nasional bahkan internasional, dapat membuat Manggarai Timur berada pada level sejajar dengan Kabupaten lain di Indonesia yang mandiri, produktif, potensi wilayah dipacu pengembangannya, desa desa dikawal dan dituntun kemajuannya, rakyat dan umat, tokoh tokoh politik, pemerintah dan pemuka agama dan pemanhku adat akan bersinergi memajukan Manggarai Timur tercinta. Sy jamin akan integritas dan ketulusan Pa Frans Sarong. Jangan ragu memilih dia menjadi pemimpin kita. Kita orang Manggarai Timur patut bersyukur masih ada calon bupati yang seperti dia.”
Bakal calon bupati Manggarai Timur, Frans Sarong sering didaulat sebagai tokoh pencerah sekaligus tokoh pendidikan politik di NTT. Dalam setiap pernyataan politiknya, Frans Sarong selalu menyuarakan  pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat agar masyarakat mendapat pencerahan dan pemahaman yang baik tentang demokrasi dalam politik.
Frans juga menyampaikan pesan kepada semua tim dan keluarga agar mengedepankan politik santun dan sejuk sehingga kemenangan yang didambakan juga menjadi kemenangan bermartabat.
“Pilkada Matim harus seperti sepak bola, menunjukan seni. Tidak boleh meninggalkan kebencian,” jelas Frans.
Sarong juga mengatakan, pendidikan kepada masyarakat luas juga sebagai kerja lanjutkan dari sosialisasi. “Pendidikan politik sebagai kerja lanjutan dari sosialisasi dan di manapun saya pergi, metode berkumpul dengan masyarakat sangat manjur dipakai,” katanya.
Oleh karena itu, sebagai  calon bupati, Sarong selalu mengedepankan   metode ‘ledjong’ dalam kegiatan sosialisasi calon bupati kali ini.
Menurutnya melalui metode berkumpul sambil memberikan pencerahan politik,
masyarakat tidak merasa segan bahkan takut untuk menyampaikan gugatan kepada siapapun elit dan pejabat publik.
Ia juga menambahkan, gugatan atau keluhan-keluhan masyarakat mesti diberi ruang, didengar dan di pahami tanpa adanya sekat. (che/bp)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here