Home Kota Kupang Fransisco: Saya Kecewa Dengan Polisi

Fransisco: Saya Kecewa Dengan Polisi

622
0
SHARE
Kupang, kriminal.co – Fransisco Bernando Bessi  mengaku kecewa dengan pihak kepolisian Polres Kupang Kota terkait penanganan kasus dugaan korupsi pengelolaan dana pengawasan Pilwalkot tahun 2017 di Panwaslu Kota Kupang.

Pasalnya, hingga kini pihak kepolisian Polres Kupang Kota belum menyelidiki adanya dugaan keterlibatan oknum polisi di Polres Kupang Kota, FM yang menerima dana Panwaslu senilai Rp 27 juta sebagai ucapan terima kasih.

“Saya kecewa dengan polisi dalam penanganan perkara itu. Karena diduga kuat ada keterlibatan oknum polisi FM yang menerima aliran dana senilai Rp 27 juta sebagai ucapan terima kasih,”kata Fransisco B. Bessi ketika dihubungi media ini, Minggu (4/11) malam.

Pengcara muda ini yang akrab disapa Sisco merupakan kuasa hukum tersangka Jance Junike Kaborang alias Ance selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kepala Sekretariat Panwaslu Kota Kupang, serta Bernardinus A. Lopo alias Edy selaku bendahara.

Sisco mengatakan, pihak tim penyidik Tipikor Polres Kupang Kota tidak mengungkap semua proses dalam penggunaan anggaran terkait kasus dugaan korupsi dana panwaslu kota kupang.

“Ini yang saya sesalkan. Tidak lebih hanya formalitas untuk menetapkan tersangka, ada kasusnya, selesai kemudian dilempar ke Pengadilan. Tidak begitu, karena keterangan dari mereka (tersangka) jelas, bahwa ada pihak lain dan itu nyata di dalam BAP. Bukan hanya keterangan tunggal, tetapi didukung oleh keterangan-keterangan yang lain,” kata Sisco.

“Pertanyaannya kenapa penyidik tidak memeriksa dan jaksa juga tidak melihat hal ini. Oleh karena itu, harapan saya, saya akan membuat perkara ini menjadi menarik di Pengadilan, dengan semua pihak yang diduga terlibat akan dibuka,” sambung Sisco.

Menurut Sisco, dalam pemeriksaan sebelumnya, kliennya mengungkap penggunaan dari total dana senilai Rp 768.610.544 yang belum bisa dipertanggungjawabkan.

“Dalam pemeriksaan klien saya menerangkan bahwa uang-uang tersebut itu ada digunakan untuk konsumsi sidang awal sengketa dari Oktober 2016-2017, sekira Rp 300 juta ke Polres Kupang Kota untuk konsumsi selama pengamanan,” beber Sisco.

Selain itu, kliennya juga mengaku menyerahkan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih untuk Polres Kupang Kota yang diambil oleh FM, salah satu oknum polisi di Polres Kupang Kota dengan dana sebesar Rp 27 juta.

Dari total dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut, menurut Sisco, kliennya mengaku juga digunakan untuk pembelanjaan barang habis pakai senilai Rp 200 juta lebih dari Juli 2016 hingga April 2017, dan juga sisanya untuk penggunaan pribadi dari Ketua Panwaslu Kupang Germanus Atawuwur.

“Juga sopir pribadi Germanus Atawuwur bernama David Lassa untuk membeli barang emas berupa kalung, handphone dan uang muka pembelian sepeda motor senilai Rp 10 juta,” ungkap Sisco.

Harapannya, pengembangan perkara tersebut tidak berhenti di kedua kliennya, karena uang tersebut juga diberikan ke sejumlah pihak.

“Jumlah uangnya banyak. Setelah beberapa kali diperiksa, hari ini baru jelas ke siapa-siapa saja. Kedua tersangka memang benar sudah mengakui kesalahannya dan juga menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi, tetapi itu jumlahnya sekira 200 juta lebih, dan tidak sampai Rp 700 juta, dan dibagi ke pihak-pihak yang lain,” kata Sisco lagi.

“Terlebih uang konsumsi, itu bukan klien saya yang gunakan, karena ada pihak lain. Kalau dibebankan ke mereka, saya rasa kurang fair. Sementara sejumlah asset klien saya yang sudah disita senilai Rp 200 juta lebih, seperti mobil, sepeda motor, televisi, kulkas, sampai tempat tidur,” sambung dia.

Ditambahkan, sesuai laporan penghitungan BPKP, misalnya sidang di Wisma Harapan, ada dana senilai Rp 10 juta, tetapi yang dibayar Rp 7 juta.

Sementara sisa dana senilai Rp 3 juta, dari keseluruhan dana itu dipangkas untuk membiayai hal-hal yang tidak terduga, seperti biaya pengamana yang cukup banyak.

“Hingga saat ini klien saya pak Bernardikus A. Lopo selaku bendahara masih syok berat atas kasus yang dialaminya ini,” sebut Sisco.

Ditambahkan, jika kliennya dalam pemeriksaan juga mengaku bahwa ada anggaran yang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

“Mereka mengaku pakai dana itu untuk berfoya-foya dengan teman-teman. Ada yang dipakai membeli barang-barang seperti meubeler dan peralatan elektronik, juga pergi karaoke ke tempat hiburan dan perawatan kecantikan di salon,” sebut dia.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here