Home Timor Hentikan Kasus Pengrusakan, Kajari TTU : Damai Itu Indah

Hentikan Kasus Pengrusakan, Kajari TTU : Damai Itu Indah

52
0
SHARE

TTU, Kriminal.co – Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Roberth Jimmy Lambila, S. H, M. H, yang mengukir segudang prestasi di institusi Kejaksaan, kembali berhasil mendamaikan kasus tindak pidana pengrusakan.

Proses perdamaian yang dipimpin langsung oleh Kajari Kabupaten TTU ini merupakan kali keduanya. Dalam proses perdamaian yang berlangsung di Kantor Kejari Kabupaten TTU ini dihadiri oleh Jaksa Penuntut Umum, Muhamad MS. Wijaksana, Ahmad Fauzi (Kasi Pidum), Argorius Karlino Tani (tersangka) dan Yermia Bessi (korban).

Dalam kasus ini, tersangka Argorius Karlino Tani disangka melakukan tindak pidana Pengrusakan dimana tersangka disangkakan melanggar Pasal 406 Ayat (1) KUHP.

Kajari Kabupaten TTU, Roberth Jimmy Lambila, S. H, M. H kepada wartawan, Kamis (13/10/2022) mengatakan pelaksanaan proses perdamaian oleh Jaksa Penuntut Umum selaku fasilitator berhasil dengan ditandai dengan Penandatangan Berita Acara Proses Perdamaian Berhasil (RJ-20) yang ditandatangani tersangka Argorius Karlino Tani.

Selain tersangka, lanjutnya, berita acara perdamaian juga ditandatangani oleh Yermia Bessi selaku korban dalam kasus tindak pidana pengrusakan yang mengakibatkan kerugian materil mencapai Rp. 2. 500. 000.

“Berita acara perdamaian korban dan pelaku tandatangani. Selain itu juga, dari tokoh masyarakat, kuasa hukum korban dan pelaku serta jaksa penuntut umum selaku fasilitator,” ujar Lambila.

Kajari TTU menambahkan bahwa tidak semua tindak pidana harus diselesaikan di Pengadilan. Dalam kasus ini, jaksa berupaya untuk mendamaikan dengan berbagai pertimbangan dan berdasarkan aturan yang mana melalui jalur restoratif justice (RJ).

Menurut Lambila, dalam sebuah tindak pidana bukan soal berapa lama atau berapa besar hukuman yang akan diterapkan. Namun, sebagai manusia jaksa menggunakan sisi kemanusiaan agar masyarakat Kabupaten TTU hidup dalam kedamaian tanpa adanya perselisihan.

“Bukan soal berapa lama hukuman atau bukan soal siapa yang dihukum. Yang kami mau adalah masyarakat hidup dalam perdaiaman sehingga tercipta suasana hati yang baik. Gunakan sisi kemanusiaan agar semuanya menjadi baik,” ungkap Lambila.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here