Home Kota Kupang Kasus MTN Bank NTT, Vinsen Pata : Ini Soal Harga Diri Penegakan...

Kasus MTN Bank NTT, Vinsen Pata : Ini Soal Harga Diri Penegakan Hukum

472
0
SHARE

Foto : Vincen Pata (anggota DPRD NTT)

Kupang, Kriminal.co – Hingga saat ini kasus dugaan korupsi pembelian Medium Term Note (MTN) senilai Rp. 50 miliar olrh Bank NTT dari PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP), masih menjadi polemik dikalangan masyarakat, akademisi dan DPRD NTT.

Pasalnya, kasus tersebut terkesan lamban dalam penanganannya oleh Kajaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lambannya penanganan kasus dugaan korupsi Bank NTT dalam pembelian MTN senilai Rp. 50 miliar, memunculkan pertanyaan dari DPRD NTT tentang niat baik dan wibawa untuk tuntaskan kasus itu.

“Ini tergantung niat baik aparat penegak hukum, karena publik tidak pernah tahu, apakah kasus MTN masuk ranah perdata atau perbankan,” kata anggota DPRD NTT, Vincen Pata terkait penanganan kasus MTN PT SNP di Bank NTT, Selasa (05/04/2022).

Menurut Vincen, masyarakat tidak mengerti soal perdata atau pidana. Namun yang diketahui bahwa kasus MTN Bank NTT ada kelalaian dan penyimpangan, sehingga prosesnya melalui ranah hukum.

“Masyarakat dan nasabah percaya bahwa setiap pelanggaran pasti ada tindakan hukum. Ini yang ditunggu,” tegasnya.

Dikatakannya, terkait lambannya penanganan kasus itu, tergantung dari niat baik Kejati NTT, apakah ada harga diri dan wibawa soal penegakan hukum. Jika ada, maka prosesnya tidak boleh lamban.

“Urusan hukum adalah bukti, kalau buktinya sudah mendukung, bahwa prosedurnya tidak benar dan ada kelalaian. Kenapa sampai lelet. Pelanggaran, ya pelanggaran, ditindak selesai. Kita mau ada harga diri tidak,” tandasnya.

Dirinya mempertanyakan proses pembelian MTN dari PT. SNP, apakah proses sudah benar, sehingga ditindaklanjuti dengan pembelian itu. Jika tidak, maka ada kelalaian disitu. Sehingga Kejaksaan mengejar kelalaian itu. Jika prosesnya tidak benar, sehingga terjadi korupsi, maka harus diselesaikan atau ditindak.

Intinya, kata Vincen, masyarakat tidak mau terjebak dalam proses di Kejati NTT, seperti tunggu hasil PPATK. Karena yang masyarakat tahu, ada kelalain, maka yang ditunggu adalah golnya atau hasil.

“Gol itu yang membuat Kejati NTT ada wibawa. Kalau tidak ada gol, sama dengan kita hanya rame di depan gawang,” katanya.

Dalam kasus MTN Bank NTT sudah terdapat sejumlah yurisprudensi, diantaranya kasus MTN di Bank Sumatera Utara (Sumut). Dimana salah satu mantan pejabatnya divonis 10 tahun penjara.

Ada juga kasus MTN Taspen Life. Dimana Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan dua orang sebagai tersangka. Salah satunya mantan Direktur Utama (Dirut) Taspen Life.

Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kajati NTT), Hutama Wisnu, S. H, M. H, yang ditemui di Kantor Gubernur NTT, Jumat (01/04/2022) menegaskan bahwa kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh penyidik Tipidsus Kejati NTT.

Dijelaskan Kajati, proses hukum masih terus dilakukan oleh tim penyidik Tipidsus Kejati NTT dengan melakukan koordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analis Traksaksi Keuangan (PPATK).

“Penyelidikan dan proses hukum terhadap kasus itu masih tetap berjalan,” kata Kajati NTT, Hutama Wisnu, S. H, M. H.

Ketika ditanya soal hasil koordinasi dengan PPATK, Kajati NTT menjelaskan bahwa saat ini penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan PPATK terhadap tiga belas (13) nama yang disodorkan oleh penyidik.

“Iya, masih menunggu hasil pemeriksaan dari PPATK terkait 13 nama yang disodorkan oleh penyidik. Jadi tunggu saja ya,” ujarnya.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here