Home Flores Kejari Kabupaten Ende Hentikan Kasus Penadahan

Kejari Kabupaten Ende Hentikan Kasus Penadahan

76
0
SHARE

Ende, Kriminal.co – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Ende, akhirnya menghentikan kasus dugaan tindak pidana penadahan untuk tersangka MY.

Penghentian penuntutan kasus dugaan tindak pidana penadahan oleh Kejari Kabupaten Ende ini berdasarkan keadilan restorative (Restorative Justice) dengan tersangka berinisial MY yang disangkakan telah melanggarn Pasal 480 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman maksimal 4 tahun dan denda senilai Rp.900. 000.

“Tersangka MY (24) merupakan seorang pekerja serabutan yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya mengalami depresi sehingga mentalnya terganggu sehingga dalam usianya yang masih muda tersangka harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya,” kata Kajari Kabupaten Ende, Romlan Robinson, S. H, M. H kepada wartawan, Jumat (09/09/2022).

Dijelaskan Romlan,, awalnya pada tanggal 30 Juni 2022 sekitar pukul 22.00 Wita, seseorang dengan inisial SKS menawarkan sebuah HP kepada tersangka MY, dengan merk Samsung Galaxy A30 seharga Rp. 700. 000.

Namun, lanjutnya, karena tersangka hanya memiliki uang senilai Rp. 400.000, maka mereka melakukan negosiasi dan SKS setuju untuk menjual HP tersebut kepada tersangka.

Ditambahkan Romlan, dalam kasus ini, tersangka tidak mencurigai HP tersebut dikarenakan SKS telah mengganti dan mereset foto-foto yang ada di HP tersebut menjadi fotonya.

Kajari Kabupaten Ende menegaskan alasan penghentian penuntutan perkara tersebut dikarenakan kondisi kehidupan tersangka dan fakta pada berkas perkara dimana tersangka MY baru pertama kali melakukan tindak pidana dan tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka.

Dalam kasus ini, kata Kajari, tersangka dijerat menggunakan Pasal 480 Ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana maksimal selama 4 tahun atau denda tidak lebih dari Rp. 900 ribu, telah memenuhi syarat yang tercantum dalam Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 Tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan  Restoratif.

Selanjutnya, tambah Kajari, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum, Ema Dian Prihantono, S.H., M.H. dan Jaksa Penuntut Umum I Dewa Nyoman Wira Adiputra, S.H. selaku fasilitator melakukan upaya perdamaian antara tersangka dan Korban dengan inisial EMS selaku pemilik HP tersebut.

“Korban memaafkan dengan tulus dan tersangka juga sudah menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ujarnya.

Setelah melakukan perdamaian antara tersangka dan korban, Kejaksaan Negeri Ende melakukan ekspos ke Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur. Dari hasil ekspos tersebut disetujui pelaksanaan Restorative Justice yang kemudian diusulkan ke Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum (JAMPIDUM).

Pada tanggal 08 September 2022 pukul 10.00 Wita, Kejaksaan Negeri Ende lalu melakukan ekspos perkara dengan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum (Jampidum), yang diwakili oleh Direktur Tindak Pidana Terhadap Orang dan Harta Benda (Oharda) pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum, Ibu Agnes Triyanti, S.H., M.H. secara virtual melalui zoom meeting.

Dalam arahannya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum melalui Direktur Tindak Pidana Terhadap Orang dan Harta Benda (Oharda) menyetujui pelaksanaan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif terhadap tersangka MY.

Dan, meminta agar Kejaksaan Negeri Ende segera melengkapi administrasi perkara dan melakukan eksekusi. Berdasarkan dengan persetujuan tersebut maka pada tanggal 09 Agustus 2022 Kejaksaan Negeri Ende melakukan penghentian perkara atas tersangka MY dan resmi dibebaskan dari segala tuntutan dengan catatan apabila dikedepannya yang tersangka kembali melakukan tindak pidana maka restorative justice yang telah diterima tersangka akan dibatalkan.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here