Home Kota Kupang MTN Dipaksakan Jadi Kasus, Lasarus : Walikota Kupang Sangat Tendensius

MTN Dipaksakan Jadi Kasus, Lasarus : Walikota Kupang Sangat Tendensius

501
0
SHARE

Foto : Jefri Riwu Kore (Walikota Kupang)

Kupang, Kriminal.co – Pernyataan Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore salah satu Pemegang Saham di Bank NTT terkait kasus Medium Term Note (MTN) senilai Rp. 50 miliar pada Bank NTT, dipaksakan untuk menjadi kasus menuai kontroversi dari alademisi.

Pernyataan Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dinilai secara tidak langsung telah menuding tim penyidik Tindak Pidana Khusus (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) memaksakan MTN yang kini dilidik dipaksakan untuk menjadi sebuah kasus korupsi.

Dosen Fisip Undana Kupang, Lasarus Jehamat kepada wartawan, Minggu (20/03/2022) menegaskan bahwa pernyataan Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore sangatlah tendensius.

Menurut Lasarus, dengan adanya pernyataan Jefri Riwu Kore salah satu pemegang saham di Bank NTT, telah menuding jaksa bahwa memaksakan pembelian MTN oleh Bank NTT berdasarkan temuan BPK NTT, Bank dirugikan Rp. 50 miliar ini dipaksakan oleh jaksa untuk menjadi sebuah kasus korupsi.

“Kalau saya melihat pernyataan Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore sangatlah tendensius dan sudah menuding jaksa bahwa memaksakan MTN untuk menjadi sebuah kasus,” ungkap Lasarus.

Terkait pernyataan Jefri Riwu Kore bahwa ” kawan – kawan kita memaksakan MTN menjadi kasus”, Lasarus meminta agar Walikota Kupang menjelaskan maksud dari kalimat kawan – kawan tersebut.

“Jefri Riwu Kore harus jelaskan maksud kawan – kawan ini siapa?, apakah jaksa ataulah wartawan. Jangan sebut secara luas seperti yang diungkapkan itu,” ujar Lasarus.

Menurut Lasarus, pernyataan Walikota Kupang merupakan pernyataan bersayap. Untuk itu, Walikota Kupang harus berani memberikan klarifikasi maksud dari kalimatnya bahwa kawan – kawan memaksakan untuk menjadi kasus.

Ditegaskan Lasarus, dengan adanya pernyataan Walikota Kupang maka secara mudah dapat dibaca motif dan maksudnya dibalik kasus MTN pada Bank NTT yang berdasarkan temuan BPK NTT, Bank NTT mengalami kerugian keuangan hingga Rp. 50 miliar.

“Agak repot memang kalau ada pernyataan bersayap seperti disampaikan¬† Walikota Kupang. Walikota harus berani mengklarifikasi pernyataannya itu dulu. Sebab, jika tidak, mudah dibaca ada motif lain di balik kasus ini. Pertanyaan saya, apa maksud Walikota mengeluarkan pernyataan bahwa kasus ini sengaja dibuat? Untuk apa?,” katanya.

“Soal besarnya, ada dua pernyataan yang kontradiktif di sana. Ini yang harus klarifikasi Walikota. Sukses tapi gagal. Apa maksudnya. Buat saya, sebesar apa pun kerugian negara, harus tetap diusut. Diusut bukan karena kesuksesan tatapi karena kerugian seperti temuan BPK,” tambahnya.

Masih menurut Lasarus, pertanyaanya maksud dari Walikota Kupang yang menyebut kawan – kawan ini harus dijelaskan secara jelas dan maksud dipaksakan menjadi sebuah kasus harus dijelaskan secara baik.

“siapa yang disebut kawan – kawan? Apa maksud dipaksakan kalau memang ada kerugian? Ini jelas kalimat bertendensi saya kira,” tutup Lasarus.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here