Home Kota Kupang Nenek 70 Tahun Jadi Tersangka, Polisi Tidak Hadirkan Alat Bukti

Nenek 70 Tahun Jadi Tersangka, Polisi Tidak Hadirkan Alat Bukti

427
0
SHARE

Kupang, Kriminal.co – Polres Kupang Kota menetapkan Norma Henderina (70) sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana penganiayaan terhadap Christin Natali Chandra (korban).

Namun, anehnya nenek berusia 70 tahun ini ditetapkan sebagai tersangka tanpa dilakukan rekonstruksi dan menghadirkan alat bukti berupa CCTV sesuai permintaan nenek yang dijadikan sebagai tersangka.

Norma Henderina yang dikonfirmasi wartawan, Senin (12/09/2022) mengaku bahwa dirinya kecewa dengan kinerja kejaksaan dan pihak kepolisian dari Polres Kupang Kota.

Menurut tersangka yang juga korban dalam kasus ini, dirinya tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap Christin Natali Chandra (tersangka kasus penganiayaan).

Anehnya, lanjut Norma, dirinya ditetapkan menjadi tersangka karena diduga melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap Christin Natali Chandra yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap dirinya.

Ditegaskan Norma, dirinya telah meminta kepada pihak kepolisian yakni Polres Kupang Kota untuk menghadirkan alat bukti berupa rekaman CCTV namun tidak dipenuhi oleh penyidik Polres Kupang Kota.

“Sesuai hasil visum kata polisi ada luka akibat penganiayaan yang saya lakukan. Dan, jahitan itu ada delapan (8) ditangan. Tapi anehnya saya minta hadirkan CCTV untuk lihat apa benar saya dorong sampai jatuh polisi tidak mau. Padahal sudah dua (2) kali saya minta,” terang Norma.

Lebih membingungkan, lanjutnya, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) terhadap Christin Natali Chandra terdapat perbedaan. Dimana, BAP pertama disebutkan bahwa terdapat luka dibagian kaki dan tangan.

Sedangkan, BAP kedua yang diambil kepolisian dari Christin Natali Chandra disebutkan bahwa terdapat luka dibagian tangan sehingga menyebabkan luka dan dijahit. Serta, luka yang dialami oleh Christin Natali Chandra akibat benda tajam berupa gergaji dan palu.

“Ada dua BAP yang berbeda pertama bilang luka di bagian kaki dan tangan. Lalu BAP kedua bilang luka dibagian tangan saja akibat benda tajam yakni gergaji dan palu,” terang Norma.

Dalam kesempatan yang sama, George Namofa, S. H selaku kuasa hukum tersangka mengatakan bahwa rekonstruksi bukan suatu keharusan dalam suatu kasus pidana.

Namun, katanya, pembuktian di Pengadilan lah yang utama. Sehingga, terkait dengan alat bukti CCTV sesuai permintaan kliennya hingga saat ini belum juga dihadirkan.

“Anehnya waktu tanggal 15 Agustus 2022, jaksa penyidik bilang kami tunggu rekaman CCTV dari polisi untuk disesuaikan dengan fakta. Jadi belum bisa kami nyatakan P21. Tapi, anehnya tanggal 09 September 2022 jaksa P21 tanpa alat bukti,” ungkap George.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here