Home Flores Tiga Terdakwa Kasus Jembatan Apung Lembata Dituntut Berbeda

Tiga Terdakwa Kasus Jembatan Apung Lembata Dituntut Berbeda

2338
0
SHARE

Kupang, Kriminal.co – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang, kembali menggelar sidang kasus dugaan korupsi proyek pekerjaan pembangunan destinasi wisata jembatan apung dan kolam apung di Pulau Siput Awololong, Kabupaten Lembata, Selasa (15/02/2022).

Sidang kali ini beragendakan pembacaan tuntutan oleh jaksa penuntut umum kepada tiga terdakwa Mido Aryanto Boru, Silvester Samun dan Abraham Yeheskibel Limanto      yang dipimpin ketua majelis hakim Sarlota Marselina Suek  didampingi hakim anggota masing – masing, Ngguli Liwar Mbani Awang dan Lizbet Adelina. Turut hadir JPU Kejati NTT, Hendrik Tiip, S. H, Herry C. Franklin, S. H, M. H dan Emi Jehamat, S. H dan kuasa hukum masing – masing terdakwa.

Dalam amar tuntutannya JPU menegaskan bahwa ketiga terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dengan cara melawan hukum untuk menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi dengan merugikan keuangan negara.

Untuk dua terdakwa yakni Mido Aryanto Boru dan Silvester Samun dituntut selama dua (2) tahun penjara. Kedua terdakwa juga diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp. 100 juta subsidair enam (6) bulan kurungan.

Sedangkan untuk terdakwa Abraham Y. T. Limanto  dituntut selama lima (5) tahun penjara. Selain pidana badan, terdakwa juga diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp. 100 juta subsidair enam (6) bulan kurungan . Selain iu, terdakwa juga diwajibkan untuk membayar uang pengganti kerugian keuangan negara sebesar Rp. 1, 4 miliar subsidair dua tahun dan tiga bulan penjara.

Menurut JPU, adapun hal – hal yang memberatkan ketiga terdakwa. Hal – hal yang memberatkan ketiga terdakwa diantaranya perbuatan para terdakwa menghambat program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi.

Selain itu, perbuatan ketiga terdakwa membuat Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kupang tidak mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari program wisata ini.

Untuk hal – hal yang meringankan diantaranya ketiga terdakwa tidak pernah dihukum, terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan ketiga terdakwa mengakui kesalahannya.

Usai membacakan tuntutan kepada ketiga terdakwa ketua majelis hakim menunda persidangan hingga Jumat (18/02/2022) mendatang dengan agenda pembacaan pledoi (nota pembelaan) dari kuasa hukum terdakwa.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here