Home Kota Kupang Usai Temui Dirut Bank NTT, Kasus MTN Tenggelam Ditangan Hutama Wisnu

Usai Temui Dirut Bank NTT, Kasus MTN Tenggelam Ditangan Hutama Wisnu

299
0
SHARE

Kupang, Kriminal.co – Harapan masyarakat NTT kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kajati NTT), Hutama Wisnu, S. H, M. H, dalam penuntasan kasus korupsi di NTT seperti hilang harapan.

Pasalnya, kasus dugaan korupsi pembelian Medium Term Note (MTN) dari PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) senilai Rp. 50 miliar oleh Bank NTT, mulai tenggelam dan terkesan lamban.

Penuntasan kasus dugaan korupsi senilai Rp. 50 miliar berdasarkan temuan BPK RI Perwakilan NTT ini, tenggelam dan lamban semenjak dipimpin Kajati NTT, Hutama Wisnu, S. H, M. H.

Lambannya penanganan kasus dugaan korupsi pada Bank NTT senilai Rp. 50 miliar ini, setelah Direktur Utama (Dirut), Alex Riwu Laho bersama sejumlah pejabat menemui Kajati NTT, Hutama Wisnu.

Dengan adanya pertemuan antara Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho dan Kajati NTT, Hutama Wisnu, S. H, M. H, integritas aparat penegak hukum serta pencanangan Zona integritas dan WBK/WBBM oleh Kejati NTT patut dipertanyakan.

Melihat kondisi demikian, Mikael Feka ahli hukum pidana pada Universitas Katholik Widya Mandira (Unwira) Kupang mengatakan penanganan kasus dugaan korupsi pembelian Medium Term Note (MTN) oleh Bank NTT senilai Rp. 50 miliar dari PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP), terkesan lamban.

Dirinya menilai penanganan kasus MTN senilai Rp. 50 miliar Bank NTT di Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT terkesan lambat padahal kerugian negara dalam kasus itu sudah sangat jelas berdasarkan remuan LHP BPK RI Perwakilan NTT tertanggal 14 Januari 2020 lalu.

“Kasus MTN Rp. 50 miliar kerugian negaranya sudah sangat rill tapi mengapa penanganannya oleh Kejati NTT snagatlah lamban,” tegas Mikhael Feka kepada media ini, Selasa (07/12/2021) lalu.

Untuk itu, dirinya mengusulkan ke tim penyidik Tipidsus Kejati NTT untuk mencari alat bukti guna menentukan siapa tersangkanya.

“Saya pikir tinggal penyidik mencari alat bukti untuk menentukan siapa tersangkanya. Apalagi kasus ini, sudah sangat lama,” katanya.

Penyidik Kejati NTT, lanjutnya, hanya perlu menelusuri SOP Bank NTT waktu melakukan kerjasama dengan pihak lain yang merugikan Bank NTT.

Bila perlu, tambah Mikael, jika penyidik membutuhkan alat bukti, maka tinggal memeriksa ahli untuk membantu, sehingga kasus ini menjadi terang benderang dan ada kepastian hukum bagi masyarakat NTT.

Ditegaskan Mikael, jika bukan masalah korupsi, maka harus diumumkan ke publik, sehingga tidak menjadi tanda tanya di masyarakat terkait penanganan kasus Bank NTT yang merugikan negara Rp. 50 miliar.

Mikael Feka juga meminta Kejati NTT jangan tebang pilih dalam menangani kasus korupsi di NTT. “Jangan yang lain dipercepat, tapi kasus ini justru lambat. Malah nanti publik bertanya, ada apa dengan semua ini,” ujarnya.

Namun, kata Mikael, dirinya memberikan apresiasi kepada Kejati NTT dalam menangani kasus-kasus korupsi di NTT.
“Karena itu, kami minta kasus ini juga segera diselesaikan oleh Kejati NTT,” tegasnya.

Untuk diketahui, dalam kasus dugaan korupsi pembelian MTN senilai Rp. 50 miliar oleh Bank NTT, penyidik Kejati NTT telah memeriksa sejumlah saksi diantaranya Direktur Utama (Dirut) Bank NTT, Alex Riwu Kaho.

Selain itu, tim penyidik Tipidsus Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT juga telah memeriksa mantan Dirut Bank NTT, Edy Bria, Kadiv Treasury Bank NTT, Zet Lamu dan Markus Hage.(che)

Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here